![]() |
| Bupati Kampar Ahmad Yuzar saat menyaksikan salah satu pameran yang ada Festival Kreatif Lipatkain (Foto: Ist) |
Kampar Kiri (Teras Kampar) — Di tengah arus modernisasi yang kian deras, masyarakat Lipatkain memilih cara yang sederhana namun bermakna: merawat budaya agar tetap hidup. Melalui Festival Kreatif Lipatkain Season III, ruang itu kembali dibuka—bukan sekadar panggung hiburan, melainkan panggung identitas.
Peresmian festival oleh Bupati Kampar, Ahmad Yuzar, Rabu (8/4/2026), menjadi penegasan bahwa budaya bukan warisan yang hanya dikenang, melainkan harus terus dijalankan. Di pelataran Kantor Lurah Lipatkain, ribuan masyarakat berkumpul, menghadirkan denyut tradisi yang terasa nyata.
Dalam sambutannya, Ahmad Yuzar mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh menghapus akar. Tema festival tahun ini, “Bersama Menjaga Budaya, Bangun Ekonomi Kreatif dengan Hati”, dinilai sebagai refleksi kesadaran kolektif masyarakat.
“Produk yang lahir dari hati, yang membawa napas budaya, akan memiliki nilai lebih. Kita tidak boleh kehilangan jati diri,” ujarnya.
Festival ini tidak hanya menampilkan kerajinan dan kuliner, tetapi juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai adat tetap menjadi fondasi kehidupan.
Kehadiran niniak mamak, alim ulama, dan cerdik pandai memperkuat posisi adat sebagai penyangga arah pembangunan.
Pepatah lama kembali dihidupkan dalam ruang publik: “Patah tumbuah hilang bagonti, pusako lamo jan dipasiasi.”
Sebuah pengingat bahwa perubahan boleh terjadi, tetapi warisan tidak boleh diabaikan.
Di Lipatkain, festival ini menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia menjelma menjadi simbol perlawanan halus terhadap lupa—bahwa budaya bukan masa lalu, melainkan jalan pulang bagi masa depan.(*)
Advertorial


