![]() |
| Balai Adat Desa Sekijang, Kecematan Tapung Hilir, Kampar |
Kampar (Teras Kampar) – Sejarah awal Kampung Sekijang di Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, tak lepas dari kisah turun-temurun (tambo) yang masih hidup di tengah masyarakat hingga kini. Cerita ini berkisah tentang perjalanan tiga orang datuk dari wilayah Sungai Suram yang mencari dataran tinggi sebagai tempat bermukim.
Dalam tambo tersebut, disebutkan bahwa kawasan Sungai Suram kerap dilanda banjir saat air Sungai Tapung meluap. Kondisi itu mendorong tiga pemimpin suku—Datuk Godang Melayu, Datuk Rajo Melayu, dan Datuk Tanpilih (yang juga dikenal sebagai Panghulu Bosau)—untuk mencari lokasi yang lebih aman dan layak dihuni.
Perjalanan mereka berujung di wilayah hulu Tapung Kanan. Di sana, mereka menemukan sebuah dataran tinggi yang kemudian menjadi titik penting dalam sejarah asal-usul Sekijang.
Menariknya, dalam kisah tersebut, ketiga datuk itu disebut melihat seekor kijang yang tidak biasa. Kijang itu digambarkan memiliki tanduk yang memancarkan kilau kuning menyerupai emas. Keberadaan hewan itu memicu rasa penasaran sekaligus keinginan untuk menangkapnya.
Ketiganya kemudian turun dari perahu dan melakukan pengejaran. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Kijang itu akhirnya melompat ke sungai dan menghilang.
Peristiwa itu justru menjadi penanda. Dataran tinggi tempat pengejaran kijang tersebut kemudian diyakini sebagai asal muasal nama Sekijang, yang hingga kini menjadi identitas kampung tersebut.
Sejumlah tokoh masyarakat menyebut, kisah ini memiliki beberapa versi, namun inti ceritanya tetap sama: tentang perpindahan, pencarian tempat hidup, dan peristiwa simbolik yang melahirkan sebuah nama kampung.
Bagi masyarakat setempat, tambo ini bukan sekadar cerita, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.
Di tengah arus modernisasi, narasi seperti ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga sejarah lokal sebagai fondasi jati diri daerah.***


