![]() |
| Ilustrasi |
Pekanbaru, (Teras Kampar) - Narasi tentang pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang terkendali, serta pembangunan yang terus berjalan kerap disampaikan kepada publik. Angka-angka makro ditampilkan sebagai indikator keberhasilan. Namun, bagi mahasiswa, realitas sehari-hari sering kali menghadirkan pertanyaan yang tidak terjawab oleh statistik. Biaya hidup meningkat, akses pendidikan terasa kian mahal, dan peluang kerja tampak semakin tidak pasti. Di titik inilah ekonomi politik menjadi relevan untuk dibicarakan—bukan semata sebagai teori di ruang kuliah, melainkan sebagai kenyataan yang menentukan masa depan generasi muda.
Isu ekonomi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berkelindan dengan kepentingan politik. Berbagai kebijakan kerap dikemas dengan narasi stabilitas dan pertumbuhan, tetapi jarang menempatkan suara mahasiswa dan anak muda sebagai bagian penting dalam perumusannya. Padahal, mahasiswa adalah kelompok yang paling terdampak oleh kebijakan jangka panjang, mulai dari sistem pendidikan, struktur pasar tenaga kerja, hingga arah pembangunan nasional. Dalam praktiknya, pengelolaan ekonomi sering kali lebih diarahkan pada kepentingan kekuasaan, sementara nasib generasi muda berada di pinggir perhatian.
Ketidakpastian ekonomi global turut memperberat situasi. Konflik geopolitik berdampak pada kenaikan harga energi dan bahan pokok, yang pada akhirnya dirasakan langsung oleh mahasiswa dan keluarga mereka. Biaya transportasi meningkat, beban pengeluaran rumah tangga bertambah, dan banyak mahasiswa terpaksa bekerja sambil kuliah demi bertahan. Kondisi ini tidak jarang memengaruhi kualitas pembelajaran. Namun, realitas tersebut masih jarang menjadi pertimbangan utama dalam diskusi kebijakan ekonomi nasional.
Indonesia kerap dipuji sebagai negara dengan perekonomian yang relatif stabil. Akan tetapi, dari sudut pandang mahasiswa, stabilitas itu belum sepenuhnya bermakna. Ketergantungan pada komoditas mentah membuat ekonomi rentan terhadap gejolak harga global. Di sisi lain, penciptaan lapangan kerja yang berkualitas belum sebanding dengan jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahun. Akibatnya, gelar sarjana tidak lagi menjadi jaminan mobilitas sosial. Pertanyaan pun muncul: untuk siapa sebenarnya pertumbuhan ekonomi itu dirancang?
Distribusi manfaat pembangunan juga menyisakan persoalan mendasar. Ketimpangan antara pusat dan daerah masih terasa, begitu pula kesenjangan antara kelompok ekonomi atas dan bawah. Mahasiswa dari keluarga kurang mampu harus berjuang lebih keras untuk mempertahankan pendidikannya. Dalam situasi ini, ekonomi tidak lagi sekadar soal produksi dan konsumsi, melainkan juga tentang keadilan dan akses. Ketika negara gagal memastikan akses yang setara, pendidikan tinggi berisiko menjadi privilese, bukan hak.
Dalam sejarahnya, mahasiswa memiliki peran penting dalam mengkritisi arah kebijakan ekonomi politik. Berulang kali, gerakan mahasiswa menjadi pemicu perubahan. Namun, tantangan hari ini semakin kompleks. Suara mahasiswa kerap dicap sebagai gangguan stabilitas, bukan sebagai bagian dari proses demokratis yang sehat. Ruang dialog menyempit, sementara kebijakan tetap berjalan tanpa partisipasi bermakna dari anak muda. Jika kondisi ini dibiarkan, jarak antara negara dan generasi muda akan semakin melebar.
Opini ini bukan sekadar keluhan, melainkan refleksi. Mahasiswa tidak menuntut kemewahan, melainkan kejelasan arah. Yang dibutuhkan adalah kebijakan ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga membuka lapangan kerja yang layak, memperkuat perlindungan sosial, serta menjamin akses pendidikan yang adil. Tanpa itu, stabilitas ekonomi yang dibanggakan hari ini justru berpotensi melahirkan ketidakpastian di masa depan.
Pada akhirnya, ekonomi politik perlu dibaca dari realitas kehidupan sehari-hari—dari apa yang sungguh dirasakan masyarakat dan mahasiswa. Jika suara anak muda terus diabaikan, pembangunan akan terasa hampa. Kampus seharusnya tetap menjadi ruang kritis untuk mempertanyakan ketimpangan, bukan sekadar tempat berburu gelar.
Siti Nuraida Purnamasari
Mahasiswi Universitas Islam Riau


