Teknologi Kerja Bisa Menolong Pegawai, Tapi Juga Bisa Membuat Mereka Burnout
![]() |
| Ilutrasi AI |
Pekanbaru (Teras Kampar) - Ari Tri Sudarmanto, S.M., sebagai Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning, di bawah bimbingan Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum., menulis kajian studi kasus ini dengan tujuan menjadikan pengalaman profesional sebagai peluang belajar, sekaligus melatih kompetensi menyelesaikan masalah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajari di kampus.
Dalam kajian tersebut, ia menyoroti tuntutan kerja modern yang tidak lagi berhenti pada kehadiran fisik. Ia melihat bahwa pekerja kini dituntut terus terkoneksi, memantau progres melalui spreadsheet daring, mengawasi layanan secara real-time, serta merespons dinamika pekerjaan yang bergerak cepat.
Kondisi ini menciptakan job demands yang tinggi dan berpotensi menekan pekerja bila tidak diimbangi alat, sistem, dan kompetensi yang memadai.
Dalam pengamatannya, penggunaan alat digital sebenarnya dapat menjadi sumber daya yang membantu pekerja karena:
(1) sistem pelacakan dapat menunjukkan perkembangan pekerjaan; (2) dashboard membantu membaca kondisi kerja secara lebih cepat; dan (3) data real-time membuat pekerja tidak perlu menebak-nebak progres. Namun, jika penggunaan teknologi tidak disertai kesiapan keterampilan dan desain kerja yang tepat, alat yang seharusnya membantu justru dapat berubah menjadi sumber tekanan. Dampaknya dapat berupa: (1) kelelahan kerja; (2) burnout; dan (3) menurunnya kualitas pengambilan keputusan.
Ari mengusung "Resource-Based Theory" atau teori berbasis sumber daya (Barney, 1991; Wernerfelt, 1984). Teori ini memandang organisasi sebagai kumpulan sumber daya yang harus dikelola untuk menciptakan keunggulan jangka panjang.
Dalam kerangka ini, teknologi, kompetensi pekerja, sistem informasi, dan cara kerja adalah sumber daya strategis. Bila sumber daya tersebut tidak diseimbangkan, tuntutan kerja akan terasa berat; tetapi bila dikelola dengan baik, ia menjadi modal peningkatan kinerja.
Solusi jika Dilihat dengan "Resource-Based Theory"
Solusi yang diajukan adalah: (1) penyediaan alat kerja cerdas; (2) pembaruan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan; serta (3) peningkatan kompetensi pekerja agar tuntutan kerja sejalan dengan kemampuan dan perangkat yang tersedia.
Ia juga menekankan bahwa setiap tuntutan kerja harus disesuaikan dengan alat dan keterampilan pelaksana. Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum. mengomentari bahwa gagasan ini konstruktif karena mengubah tekanan digital menjadi agenda penguatan kapabilitas organisasi.
Pada bagian akhir kajian, Ari Tri Sudarmanto juga meminta pandangan sahabatnya, Dr. Chandra Bagus sebagai masyarakat yang ikut mendalami ilmu manajemen dari sudut pandang kerja dan kehidupan organisasi.
Menurut Chandra, pengalaman kerja yang ditulis Ari akan lebih tajam jika teknologi kerja tidak hanya disebut sebagai alat bantu, tetapi diuji apakah benar menjadi kekuatan organisasi. Merujuk pada Miles (2012), "Resource-Based Theory" dapat dipakai untuk melihat: (1) apakah sumber daya organisasi benar-benar berguna bagi pekerjaan (valuable); (2) apakah sumber daya itu tidak dimiliki semua pihak (rare); (3) apakah sumber daya itu sulit ditiru pesaing atau unit lain (inimitable); (4) apakah sumber daya itu sulit digantikan oleh cara lain (nonsubstitutable); serta (5) apakah sumber daya itu mampu diubah menjadi kemampuan kerja nyata (capabilities).
Dengan begitu, teori membantu menjawab apakah teknologi, keterampilan, data, dan sistem kerja benar-benar meringankan beban pegawai atau justru menjadi sumber tekanan baru.*
