![]() |
| Rizuqi Putra asal Kampar lolos di SMA Taruna Nusantara (Foto: Dokumentasi Pribadi) |
Pekanbaru (Teras Kampar) - Di sebuah sudut pondok pesantren di Jakarta Selatan, seorang remaja lelaki menundukkan kepala dalam sujud panjang. Air matanya jatuh pelan di lantai kamar asrama. Tangannya bergetar saat kabar itu datang dari telepon sang ibu.
Setelah berbulan-bulan memendam cemas, menahan lelah, dan bertarung dengan keraguan banyak orang, namanya akhirnya dinyatakan lulus sebagai calon siswa di SMA Taruna Nusantara tahun ajaran 2026/2027. Remaja itu bernama Rizuqy Al-Faiq Bianka Simaremare.
Putra kelahiran Pekanbaru, 13 Maret 2010 itu bukan anak pejabat. Ia juga bukan anak jenderal seperti bayangan banyak orang tentang siswa-siswa yang biasa lolos ke sekolah elite semi-militer tersebut.
Rizuqy hanyalah anak yatim dari keluarga sederhana berdarah Kabupaten Kampar, Riau, yang tumbuh dengan mimpi besar dan keyakinan bahwa nasib bisa diubah oleh keberanian untuk mencoba.
“Kalau tidak dicoba, hanya ada satu kemungkinan, yaitu gagal.”
Kalimat itu terus hidup di kepalanya. Kalimat sederhana peninggalan almarhum ayahnya, Benny Simaremare, yang hingga kini masih tersimpan dalam rekaman video motivasi yang sering diputar ulang oleh Rizuqy setiap kali semangatnya runtuh.
Ayahnya telah tiada. Namun, suara itu tetap menjadi tenaga yang menuntunnya berjalan.
Di balik keberhasilan Rizuqy, ada perjuangan panjang seorang ibu bernama Yessika Putri. Ia mengaku sempat menolak keinginan anaknya mengikuti seleksi SMA Taruna Nusantara.
Bukan karena tak percaya pada kemampuan sang anak, melainkan karena takut melihat putranya kecewa menghadapi persaingan yang begitu ketat.
Dalam bayangannya, sekolah itu dipenuhi anak-anak hebat dari keluarga besar TNI dan pejabat negara.
“Saya sempat bilang, rasanya tidak mungkin lolos. Karena menurut saya, di Taruna Nusantara itu super ketat dan kebanyakan anak-anak jenderal yang diterima,” ujar Yessika dengan suara bergetar, Jum'at (15/05/2026).
Namun Rizuqy tak menyerah. Dengan keyakinan yang sulit dijelaskan untuk anak seusianya, ia terus meyakinkan sang ibu agar memberinya kesempatan mencoba.
Ia datang membawa tekad yang lahir dari kehilangan.
“Saya bilang ke mio, saya ini anak Bapak Benny Simaremare dan Yessika Putri. Saya anak yatim, tapi pantang menyerah,” kata Rizuqy mengenang percakapan itu.
Akhirnya sang ibu luluh. Ia mengizinkan anak sulung dari tiga bersaudara itu mengikuti seleksi dengan satu syarat, jika gagal, Rizuqy harus kembali fokus mondok dan melanjutkan pendidikan pesantren seperti biasa. Rizuqy menyanggupinya.
Sejak itu, hari-harinya dipenuhi latihan, belajar, menjaga fisik, dan menguatkan mental. Di tengah aktivitas sebagai santri di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta Selatan, ia mempersiapkan diri menghadapi tahapan seleksi akademik SMA Taruna Nusantara yang berlangsung dalam beberapa gelombang sejak November hingga Desember 2025.
Perjalanan itu tidak mudah. Ada malam-malam ketika rasa takut datang diam-diam. Ada kelelahan yang tak selalu bisa ia ceritakan kepada siapa pun. Tetapi setiap kali hampir menyerah, ia kembali membuka video motivasi sang ayah.
“Saya lihat lagi video pio yang memotivasi saya,” katanya lirih.
Rizuqy memang dikenal sebagai anak yang aktif dan berprestasi. Selain menempuh pendidikan pesantren, ia juga memiliki sederet capaian di bidang olahraga. Ia pernah meraih juara dua pencak silat tingkat Provinsi Banten serta dinobatkan sebagai pemain terbaik basket antarpesantren se-Jakarta Selatan.
Tak hanya itu, Rizuqy juga menguasai bahasa Arab dan pernah mengikuti dauroh selama enam bulan di Universitas Islam Madinah.
Namun bagi Yessika, keberhasilan anaknya bukan semata soal prestasi akademik maupun olahraga. Ada karakter yang sejak kecil terus ia tanamkan kepada Rizuqy, disiplin, tanggung jawab, rendah hati, serta menghormati orang lain.
“Kami percaya keberhasilan bukan hanya soal kepintaran, tetapi juga tentang sikap dan karakter,” tuturnya.
Hari pengumuman kelulusan menjadi salah satu momen paling emosional dalam hidup mereka.
Saat kabar itu datang, Rizuqy langsung sujud syukur. Ia mengaku segera menunaikan nazar-nazar yang pernah ia panjatkan diam-diam selama proses seleksi.
Di sisi lain telepon, sang ibu menangis.
Bukan hanya karena bangga, melainkan karena merasa perjuangan panjang mereka akhirnya menemukan jawaban.
“Ini kebahagiaan besar untuk saya sebagai orang tua satu-satunya sekarang,” kata Yessika, mengenang almarhum suaminya.
Keberhasilan Rizuqy pun segera menyebar ke keluarga besar yang berada di Kampar Kiri. Ucapan selamat berdatangan. Banyak yang mengaku terkejut karena sebelumnya mereka bahkan tidak mengetahui bahwa Rizuqy sedang mengikuti seleksi SMA Taruna Nusantara.
“Kami memang tidak memberi tahu banyak keluarga sejak awal karena takut kecewa kalau gagal,” ujar Rizuqy sambil tertawa kecil.
Kini, tawa itu terdengar lebih ringan. Seolah seluruh beban yang selama ini dipikul perlahan luruh.
Bagi Rizuqy, diterima di SMA Taruna Nusantara bukan akhir perjalanan. Ia justru merasa perjuangan sebenarnya baru dimulai. Ia ingin tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Sementara bagi sang ibu, keberhasilan ini adalah bukti bahwa anak dari siapa pun berhak bermimpi setinggi mungkin.
Di tengah kerasnya stereotip tentang sekolah elite dan persaingan yang sering terasa mustahil, Rizuqy datang membawa kisah berbeda, tentang seorang anak yatim dari Riau yang berani mengetuk pintu mimpinya sendiri dan berhasil membukanya.(FLS)


